Wednesday, 8 December 2010

Merasa Bangga Memakai Nama Asli atau Nama Palsu

Nama adalah doa. Itulah yang sering disampaikan orangtua kepada saya. Sehingga sebisa mungkin saya selalu mengenalkan diri saya dengan nama asli. Namun ada sebuah fenomena menarik terkait dengan nama itu sendiri.

Akhir-akhir ini seiring dengan berkembangnya zaman, orang-orang jadi lebih suka memakai nama samaran sebagai sarana mengekspresikan dirinya.

Sebenarnya sih tidak masalah juga kalau mereka pakai nama palsu. Toh itu juga haknya mereka. Tapi kejadian ini justru menunjukkan banyak dari kita yang tidak pede dengan diri kita sendiri.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka tidak mau mengenalkan nama asli pada khalayak. Salah satunya terkait dengan semakin aktifnya perkembangan teknologi informasi.

Perkembangan teknologi informasi ini menyebabkan arus pertukaran budaya menjadi hal yang tak mungkin dibendung. Sehingga orang akan mudah silau dengan budaya luar yang lebih gemerlap dan under estimate dengan budaya dalam negeri.

Kembali lagi ke nama. Apalah arti sebuah nama kata William Shakesphere. Namun saya adalah orang yang berpendapat bahwa ungkapan William itu adalah sesuatu yang tolol. Bagi saya nama adalah doa, nama adalah jati diri, nama adalah cermin budaya, nama adalah harga diri.

Namun sangat teramat disayangkan sekali, bahwa banyak dari kita yang tidak bangga dengan nama sendiri. Coba saja anda surfing di Facebook, Twitter, Friendster dll nya. Hampir semua orang selalu memakai nama palsu. dan lucunya biasanya diimbuhi dengan tulisan cutes, cantique, keyen, manies, atau ungkapan narsis lainnya.

Tidak hanya di dunia maya saja, fenomena memakai nama palsu ini juga sudah mulai merambah ke dunia nyata. Saya sering mengetahui, bahwa banyak teman saya yang merubah namanya demi sebuah pengakuan status dikomunitas tertentu. Hanya saja perubahan nama itu terkadang terlalu ekstrim sehingga jadinya malah aneh dan bikin geli bagi yang mengetahuinya.

Ini adalah contoh dari krisis kepercayaan diri kebanyakan generasi muda sekarang ini. Tapi tidak semua orang berbuat demikian. Karena saya masih menjumpai banyak orang yang tetap bangga dengan nama pemberian dari orangtuanya.

Bagaimana dengan diri Anda? Apakah bangga dengan nama sendiri atau lebih suka memalsukan jati diri sendiri. hanya diri kita sendirilah yang bisa memahaminya saat ini.

Bisa berubah untuk menjadi baik dan benar, itulah yang paling terbaik saat ini. jadi marilah kita bersama-sama melakukannya demi untuk sebuah indentitas jati diri.

Jika para sahabat merasa tersinggung setelah membaca notes ini, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. tetapi jika tidak merasa tersinggung, maka silahkan saja di share atau di copy pastekan tanpa perlu bertanya kepada saya. Salam hangat selalu dimanapun anda berada saat ini.

No comments:

Post a Comment